Random Image

Detail Penulis

TWA H24

Deskripsi: TWA_H24 (baca: Twa Harefa) adalah bukan nama asli saya, TWA adalah singkatan dari Teuku Wira Alam yang merupakan gelar adar yang diberikan kepada saya oleh pemuka-pemuka adat Muslim Nias. Sedangkan H24 dibaca HaReFa. Harefa saya ambil dari marga kakek buyut kami yaitu Balugu Harimo Harefa. Selain berdarah Nias, saya juga berdarah Aceh dari kakek buyut Teuku Polem dan Datuk Radja Ahmad dari Minang. Sejarah para buyut kami ini dapat anda baca dalam web blog ini. Saya lahir dan besar di kota Gunungsitoli, Nias. Kini berdomisili di Jawa Barat. Serba sedikit masih ingat dan tau beberapa sejarah dan budaya (adat isitiadat) Muslim Nias, baik dari tutur cerita orang-orang tua kami maupun dari beberapa pemuka adat maupun kalangan akademisi. Web Blog ini adalah salah satu upaya menjaga dan mendokumentasikan sejarah dan nilai-nilai budaya Muslim Nias yang mulai banyak dipinggirkan dan dilupakan. Saya pribadi bukanlah sejarawan maupun budayawan, namun kami hanya berupaya mempublikasikan pada dunia eksistensi Muslim Nias, yang biasa disebut dalam bahasa Nias: DAWA atau NDRAWA. Semoga memberi pencerahan dan memperkaya khasanah budaya Indonesia, Nias pada khususnya. Wassalam. Sebelumnya situs ini telah kami luncurkan sejak tahun 2007 lalu dengan alamat http://niasmunity.blogspot.com/. Alamat tersebut hingga kini masih dapat diakses, namun telah kami arahkan ke alamat yang baru ini. Kritik dan saran ditujukan ke twa.h24@gmail.com

Website/Blog: http://sejarah.muslim-nias.org

Posts by TWA_H24:

    Riwayat Datangnya Suku Chaniago dari Minang ke Nias

    On February 18, 2007
    Categories: Sejarah

    Seorang bangsawan Minang asal Pariangan Padang Panjang bernama Nyik Puncak Alam dari suku Chaniago bergelar Datuk Raja Ahmad yang disertai penghulunya Ahmad Sirinto dan Si Kumango berlayar menuju Aceh Barat dengan sebuah kapal layar (picalang) yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap termasuk beberapa pucuk meriam. Misi pelayaran ini adalah untuk berdagang. Dalam penuturan lain disebutkan bahwa misinya untuk mencari Mamaknya (saudara laiki-laki Ibu) yang telah lama berlayar ke Negeri Aceh, bernama Tuanku Kariem.
    More →

    Read More | 12 Comments →

    Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Nias

    On February 18, 2007
    Categories: Sejarah

    Suatu ringkasan dari tulisan M. Idlim Polem: “Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunungsitoli Pulau Nias”

    Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, wilayah kesultanan Aceh di bagi dalam beberapa sub wilayah pemerintahan. Wilayah bagian Barat saat itu berkedudukan di Preumbeue Meulaboh dan sebagai kepala pemerintahannya adalah Teuku Cik dari Meuraksa Kutaraja (Banda Aceh) Mukim XXVI.
    More →

    Read More | 24 Comments →

    Kedatangan Orang Aceh di Nias

    On February 17, 2007
    Categories: Sejarah

    Pada masa pemerintah Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1607-1635) di Aceh, Nias telah masuk menjadi salah satu wilayah kekuasaannya pada tahun 1624. Sehingga sejak saat itu orang-orang Aceh telah mulai menempati beberapa wilayah di Pulau Nias khususnya di pesisir pantai.

    Hingga tulisan ini dimuat, kami belum memperoleh keterangan yang cukup komprehensif tentang bagaimana sejarah masuknya Nias dalam wilayah kekuasaan Aceh dan bagaimana orang-orang Aceh datang dan mendiami pulau Nias.
    More →

    Read More | 9 Comments →

    Kronologi Masuknya Islam di Nias

    On February 17, 2007
    Categories: Sejarah

    Sebagaimana kedatangan Islam di Nusantara, Islam masuk ke Nias bukan melalui misi khusus untuk menyebarkan agama, melainkan dibawa oleh para pendatang ke P.Nias baik yang berdagang maupun yang menetap disana.

    Meskipun Islam telah terlebih dahulu masuk ke Nias, namun pada perkembanganya tidak sepesat agama Kristen yang disebarkan dalam misi khusus oleh para misionaris.
    Umumnya masyarakat asli Nias yang masuk Islam adalah karena kesadaran sendiri atau karena ikatan perkawinan dengan para pendatang yang beragama Islam.
    More →

    Read More | No Comments →

    Nias Sebelum Datangnya Agama

    On February 17, 2007
    Categories: Sejarah

    Kepercayaan asli orang Nias sebelum masuknya agama adalah kepercayaan animisme dan dinamisme, serta kepercayaan terhadap adanya dewa besar yang merajai dewa-dewa yang lain.

    Menurut kepercayaan di Nias pada masa itu, seseorang yang meninggal rohnya tetap hidup dan bertempat tinggal dimana-mana. Roh tersebut dapat mendatangkan sakit kepada manusia. Untuk menjauhkan diri dari hal itu, seorang dukun (Ere) melepas seekor ayam putih yang masih hidup di bawah pohon, pecahan periuk diletakkan dibawahnya agar roh yang ada di pohon (saho, bela) menjauhkan mereka dari mala petaka.
    More →

    Read More | No Comments →