Seorang bangsawan Minang asal Pariangan Padang Panjang bernama Nyik Puncak Alam dari suku Chaniago bergelar Datuk Raja Ahmad yang disertai penghulunya Ahmad Sirinto dan Si Kumango berlayar menuju Aceh Barat dengan sebuah kapal layar (picalang) yang dilengkapi dengan persenjataan lengkap termasuk beberapa pucuk meriam. Misi pelayaran ini adalah untuk berdagang. Dalam penuturan lain disebutkan bahwa misinya untuk mencari Mamaknya (saudara laiki-laki Ibu) yang telah lama berlayar ke Negeri Aceh, bernama Tuanku Kariem.
More →
Read More | 12 Comments →
Suatu ringkasan dari tulisan M. Idlim Polem: “Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunungsitoli Pulau Nias”
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, wilayah kesultanan Aceh di bagi dalam beberapa sub wilayah pemerintahan. Wilayah bagian Barat saat itu berkedudukan di Preumbeue Meulaboh dan sebagai kepala pemerintahannya adalah Teuku Cik dari Meuraksa Kutaraja (Banda Aceh) Mukim XXVI.
More →
Read More | 24 Comments →
Pada masa pemerintah Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam (1607-1635) di Aceh, Nias telah masuk menjadi salah satu wilayah kekuasaannya pada tahun 1624. Sehingga sejak saat itu orang-orang Aceh telah mulai menempati beberapa wilayah di Pulau Nias khususnya di pesisir pantai.
Hingga tulisan ini dimuat, kami belum memperoleh keterangan yang cukup komprehensif tentang bagaimana sejarah masuknya Nias dalam wilayah kekuasaan Aceh dan bagaimana orang-orang Aceh datang dan mendiami pulau Nias.
More →
Read More | 9 Comments →
Sebagaimana kedatangan Islam di Nusantara, Islam masuk ke Nias bukan melalui misi khusus untuk menyebarkan agama, melainkan dibawa oleh para pendatang ke P.Nias baik yang berdagang maupun yang menetap disana.
Meskipun Islam telah terlebih dahulu masuk ke Nias, namun pada perkembanganya tidak sepesat agama Kristen yang disebarkan dalam misi khusus oleh para misionaris.
Umumnya masyarakat asli Nias yang masuk Islam adalah karena kesadaran sendiri atau karena ikatan perkawinan dengan para pendatang yang beragama Islam.
More →
Read More | No Comments →
Kepercayaan asli orang Nias sebelum masuknya agama adalah kepercayaan animisme dan dinamisme, serta kepercayaan terhadap adanya dewa besar yang merajai dewa-dewa yang lain.
Menurut kepercayaan di Nias pada masa itu, seseorang yang meninggal rohnya tetap hidup dan bertempat tinggal dimana-mana. Roh tersebut dapat mendatangkan sakit kepada manusia. Untuk menjauhkan diri dari hal itu, seorang dukun (Ere) melepas seekor ayam putih yang masih hidup di bawah pohon, pecahan periuk diletakkan dibawahnya agar roh yang ada di pohon (saho, bela) menjauhkan mereka dari mala petaka.
More →
Read More | No Comments →