Sekeping Potongan Sejarah Nias pada Abad ke-9 M
Dalam upaya mengumpulkan artikel-artikel yang berhubungan dengan sejarah Muslim Nias, akhirnya kami menemukan tulisan sdr. Julkifli Marbun berikut ini di salah satu blog bernama Humbang Hasundutan (http://humbahas.blogspot.com/2007/01/nias-abad-ke-9-m.html).
Blog HUMBAHAS yang menyebut blog-nya sebagai Pusat Data dan Informasi tersebut menurut pandangan kami cukup lengkap dan patut menjadi salah satu referensi atau pustaka online sejarah suku-suku di Sumatera Utara. Silahkan membaca sadurannya di bawah ini.
Sejarah Nias di Abad ke-9 M
Oleh: Julkifli Marbun
Sejarah Nias belakangan ini sangat jarang ditemukan apalagi tentang hubungannya dengan peradaban Batak. Walau begitu, banyak orang yang yakin dengan kedekatan kedua sub-bangsa ini, apalagi keduanya sama-sama memiliki sistem masyarakat yang bermarga.
Namun, bila kita cermati dengan teliti, ternyata hubungan sosial antara Nias dan Batak begitu sangat dekat. Berbagai sumber sejarah pernah menuliskannya bahkan menggambarkan dengan jelas hubungan antar keduanya.
Sumber Arab, Ahbar as-Shin wa al-Hind, yang diterjemahkan menjadi Relation de la Chines et de l’Inde, yang dikarang pada tahun 851 oleh para ilmuwan Arab, mengatakan bahwa;
“Di laut itu apabila kita berayar ke Ceylon ada pulau-pulau yang tidak banyak jumlahnya, tetapi besar-besar; tak ada keterangan lebih lanjut mengenai pulau-pulau itu; di antaranya ada sebuah yang dinamakan Lambri yang mempunyai beberapa raja, luasnya 8 atau 900 parasangers (persegi). Emasnya banyak dan ada suatu tempat yang dinamakan Fantsur (Barus) yang menghasilkan banyak kamper yang bermutu baik. Pulau-pulau tadi menguasai pulau-pulau lain di sekiranya, ada satu yang namanya Niyan (Nias).
Emas di pulau-pulau itu banyak. Makananya kelapa yang dipakai sebagai penyedap dan sebagai salep. Kalau ada yang mau kawin, ia tidak dapat mempersunting perempuan sebelum memperlihatkan tengkorak salah seorang musuh mereka; kalau dua orang yang dibunuhnya, yang diperistrinya dua perempuan; begitu pula jika 50 orang yang dibunuhnya, diperistri 50 perempuan untuk 50 tengkorak. Sebabnya ialah karena musuh mereka banyak sekali; maka makin berani orang membunuh, makin ia digemari.” (Lihat terjemahan J. Sauvaget, Paris Les Belles Lettres, 1948, hlm. 4, paragraf 6a)
Di sini sangat jelas disebutkan nama Nias. Orang Arab saat itu mengenalnya dengan nama Niyan. Niyan atau Nias seperti yang disebutkan tersebut tunduk pada kekuasaan Fantsour atau Kesultanan Barus saat itu.
Keberadaan orang-orang Nias banyak ditulis dalam sejarah perdagangan di pesisir Batak, Barus maupun Sibolga. Orang-orang Batak banyak yang melakukan perdagangan ke Nias dan begitu juga sebaliknya.
Dari sisi politik formal, Nias masuk dalam Kesultanan Barus saat itu. Hal itu terlihat dari isi Konstitusi Dinasti Pardosi yang mengatakan bahwa Sultan lah yang memiliki pulau dan daratan. Lihat Fasal Jabatan Raja Dalam Negeri, yang isinya adalah:
1. Merintahkan kepada penghulunya dan kepada segala penghulu yang takluk kepadanya
2. Menurun dan Menaikkan orang yang berjabatan pekerjaan raja.
3. Memberi aturan dalam negeri atas kebaikan dan selamatan negeri.
4. mempunyai tanah kebesaran dan tanah kosong yang pada barang yang orang punyai tidak lagi.
5. Nan punya rombo.
6. Nan punya Laut.
7. Nan punya Sungai.
8. Nan punya Pulau.
Posisi Nias dengan tanah Batak, khususnya Kesultanan Barus, seperti di atas tampaknya bertahan sampai abad ke-17 M. Hal itu diperkuat oleh penjelasan orang-orang Belanda yang terselip mengenai hubungan dagang antara kedua negara; Belanda yang diwakili dengan VOC dengan Kesultanan Barus.
Pada tahun 1668 M, orang-orang Belanda mengurus izin berdagang ke pemerintahan Kesultanan Barus. Orang-orang Belanda ingin melakukan transaksi perdagangan di pelabuhan-pelabuhan Barus yang kaya dengan komoditas-komoditas yang sangat dibutuhkan dunia saat itu.
Pada saat itu terdapat beberapa perusahaan dagang asing yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di Barus. Di antaranya yang terbesar adalah perusahaan dagang yang dimiliki orang Aceh dan juga perusahaan-perusahaan yang dipunyai oleh orang Cina dan warung-warung (toko-toko) mereka yang menyebar sepanjang pantai. Komunitas lainnya adalah komunitas pedagangan pribumi yang pusat-pusat perdagangan mereka tersebar antara Barus dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya, di antaranya Nias.
Menurut laporan VOC, semua komunitas ini membentuk ciri khas masing-masing dengan satu pimpinan yang bertanggung jawab kepada Malim Muara (Captain or Chief of the river mouth) sebuah posisi yang dilantik oleh Sultan.
Menurut Kroeskamp, Barus, Singkel dan Nias merupakan wilayah yang menyatu dalam sebuah simbiose (levensgemeenschap) dan perusahan-perusaan VOC menganggapnya sebagai satu kesatuan karena masing-masing mempunyai keterikatan hubungan satu sama lain. Oleh karena itulah, setelah Kesultanan Barus mengeluarkan izin berdagang kepada “PT” VOC (1672), izin tersebut sudah mencakup kebolehan untuk melakukan aktivitas dagang (ekspor impor) di Singkil (1693) dan Nias (1694) (lihat: Corpus Diplomaticum, vol 4, pp 25-54).
Nias dan Perpolitkan Batak
Orang-orang Nias yang ada di Pulau Nias maupun mereka yang berada di ibukota (Barus), memainkan peran yang sangat penting dalam peta politik dalam negeri Kesultanan Barus.
Diyakini pergolakan maupun konstalasi politik saat itu juga dimainkan oleh orang Nias. Termasuk kompetisi perdagangan, perbudakan, perebutan kekuasaan dan peperangan ke negeri-negeri terpencil serta beberapa intrik politik lainnya.
Oleh karena itulah, negara dalam hal ini Kesultanan Barus tidak sungkan-sungkan untuk menetapkan Nias sebagai sebuah suku dan daerah yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesatuan negara yang tidak terpisahkan.
Dalam naskah Barus- yang dijilidkan lalu disimpan di Bagian Naskah Museum Nasional Jakarta dengan no. ML 16. Dalam Katalogus van Ronkel naskah ini yang disebut Bat. Gen. 162, dikatakan berjudul “Asal Toeroenan Radja Barus”. Seksi Jawi pertama berjudul “Sarakatah Surat Catera Asal Keturunan Raja Dalam Negeri Barus- disebutkan bahwa kekuasaan dan pemerintahan Kesultanan Barus mencakup masyarakat yang terdiri dari berbagai bangsa. Di antaranya adalah Bangsa Melayu, Aceh, Rawa, Korinci, Batak Mandahiling, Angkola, Bugis, Jawa, Orang Timur, Hindu (Biasanya berkulit putih), Keling (Tamil) dan Nias. Belum termasuk orang-orang Batak dari dataran tinggi seperti Dairi, Toba, Pasaribu dan orang Batak Silindung.
Semua komunitas-komunitas ini diikat dalam satu kesatuan kewarganegaraan (satulah bangsanya) yang memberi loyalitas dan ketataan kepada kedaulatan Kesultanan Barus yang mencakup beberapa negeri di pesisir Barat Sumatera tersebut.
“Adapun di dalam perintah (kedaulatan dan pemerintahan) Barus itu satulah bangsa orang ada tinggal Melayu, Aceh, Rawa, Korinci (Kerinci), Batak Mandahiling, Angkola, Bugis, Jawa, Orang Timur itu orang semuhanya suda bercampur bagitu juga adatnya dan pakaian, ada juga Hindu, Keling dan Nias.” (Lihat Ibid, Hlm, 32(27)).
July 21st, 2009 at 09:14
assalamu’alaikum, kepada abang da penulis artikel ttg nias..tolong perjelas lagi tentang nias karakteristik masyarakat disana. Karena saya penya teman hendak melakukan penelitian tentang kaum nelayan di nias. Sebelumnya saya ucapkan trimakasih. wassalam..juliana marbun.
November 22nd, 2009 at 07:39
Suku Nias ada persamaan dengan Suku Batak, misal Telaumbanua = Tambunan, Harefa = Harahap dll, tapi jauh beda dengan bahasa, budaya dan perawakan, tolong dijelasin bagaimana yg sebenarnya ?
November 24th, 2009 at 03:40
TIDAK ADA SEJARAHNYA NIAS ISLAM INGAT……..!!!!!!!!!!!
AGAMA ISLAM BARU2 Z LHAH DATANG DI NIAZ.
DAN TIDAK PERNAH NIAS ITU BATAK.
KALAU BATAK JANGAN DI BAWA-BAWAEN DUNK DI NIAS………..
DAN KALAU DI TELUSURI NIAS BERASAL DARI DARATAN CHINA……… YANG AWALNYA DARI MOYANG GHO DAN MHO…….. DARI DARATAN CHINA.
KLO DARI ARAP YANG MENELUSURI NIAS TIDAK ADA CERITANYA DI SEJARAH NIAS.
DAN SATU LAGI BUKAN KARNA KEMIRIPAN MARGA JADI NIAS SAMA BATAK DI SAMAKAN.
MUNGKIN ITU KEBUTULAN.
MARGA ORANG NIAS ITU PUNYA SILSILAH KETURUNAN DAN SEJARAHNYA.
INGAT BUNG………
November 25th, 2009 at 08:27
Sdr ASLI (mudah-mudahan ini namanya yg Asli ya):
Silahkan sampaikan argumentasi anda dengan cerdas. tak perlu menunjukkan emosi anda dengan menggunakan huruf besar dan tanda seru yang banyak.
Anda boleh tidak suka dengan keyakinan orang lain, itu hak masing-masing orang. Tapi akan menjadi persoalan jika ketidak sukaan tersebut diekspresikan dengan cara-cara yang kurang santun.
Jika anda menafikkan keberadaan Islam di Nias, saya sarankan membaca buku karya E. Fries “Amoeata Hoelo Nono Niha”. Atau langsung baca di http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/kronologi-masuknya-islam-di-nias/.
Kami tidak akan mempersoalkan pernyataan anda tentang riwayat Moyang Gho dan Mho, karena kami tidak punya kompetensi tentang sejarah Ono Niha apalagi untuk menilainya. Tapi kami punya segudang fakta sejarah tentang kedatangan nenek moyang kami ke Nias, yang kebetulan nenek moyang kami tersebut Islam dan berasal dari beberapa suku.
Tentang kaitan dengan sejarah Batak seperti pada tulisan Julkifli Marbun, silahkan mempertanyakan atau berargumentasi langsung di blognya: http://humbahas.blogspot.com/2007/01/nias-abad-ke-9-m.html. Karena kami hanya sekedar menyadurnya disini, dan menurut kami itu adalah dokumentasi penting yang memperkaya khasanah berfikir kita tentang sejarah.
Namun demikian, saya sependapat dengan anda tentang persamaan marga yang dipertanyakan sdr. A. Saputra. Bahawa itu hanyalah kemiripan bunyi yang disama-samakan saja.
Sekali lagi kami himbau: bagi yang ingin berargumentasi, berdiskusi ataupun berdebat di blog, harap bertutur dengan santun dan elok. Gunakan akal pikiran yang jernih, jauhkan fanatisme sempit. Karena bagaimanapun tujuan blog ini adalah memperkaya khasanah budaya dan sejarah bangsa kita.
December 17th, 2009 at 14:44
Seneng nih ada alamat sendiri buat belajar sejarah Muslim di Nias.
Oiya, satu hal yang sangat menarik dari sejarah Muslim Nias adalah budaya barunya yang merupakan pencampuran antara banyak budaya.
Dari acara pernikahan, kita menggunakan budaya baru sendiri yang merupakan perpaduan antara Aceh, Padang, Bugis, Melayu dll dan termasuk Nias sendiri. Tidak ada budaya di Indonesia yang merupakan campuran dari banyak budaya induk yang menjadi adat baru yang di patuhi dan dijalankan oleh masyarakatnya kecuali Budaya Muslim Nias. Oleh karena itu, mari kita pertahankan budaya kita…
mohon di lain waktu bahas tentang apa saja hukum2 atau adat yg kita pegang secara turun temurun di Nias seperti tata cara pernikahan adat, tata cara upacara meninggal dunia, dll. Mari angkat budaya Muslim Nias…!!!
December 27th, 2009 at 23:16
Sentuhan keagamaan yang merambah subur di Pulau Nias juga mempengaruhi adat istiadat yang ada, salah satu dicontohkan bahwa di Nias memiliki adat Tabuik (Dabu) yang perpaduannya berasal dari Sumatera Barat dan Daerah Istimewa Aceh. Dalam adat pernikahan pun adat istiadat dua daerah ini menempati posisi yang sangat sentral terhadap penduduk yang beragama Islam. Pelaksanaan pesta pernikahan di daerah ini hampir seluruhnya menggunakan bahasa Minang yang di daerah ini di kenal dengan bahasa pesisir.