Dapur Kerang Tersebar Sampai Eropa
Harry Truman Simanjuntak dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengatakan situs bukit kerang terjadi oleh buah karya manusia (bukan terbentuk alami). “Lantaran ditemukan pula artefak dan ekofak di dalamnya,” kata dia kepada Tempo kemarin.
Artefak dan ekofak itu antara lain berbagai peralatan manusia dari batu, gerabah, dan tulang. Selain itu juga ditemukan bekas permukiman dan tulang belulang manusia.
Bukit kerang adalah nama pemberian masyarakat yang tinggal di sekitar situs. Para Arkeolog umumnya menyebut bukit itu dengan istilah kjokken moddingger atau kitchen midden (dapur tempat pembuangan sampah hasil konsumsi manusia tiap-tiap hari).
Bukit seperti itu tak hanya ditemukan tersebar di Asia Tengah (Vietnam dan Cina) ke Asia Tenggara (Thailand, Malaysia, dan Indonesia), tapi juga ada di Eropa (Swedia dan Denmark).
Di Indonesia, tinggi bukit kerang diperkirakan mencapai 26 sampai 27 meter: empat sampai lima meter menyembul di permukaan tanah, sisanya ada di bawah tanah. Kerang-kerang yang menumpuk itu berasal dari kelas gastropoda (umumnya spesies Thiaridae) dan pelecypoda (umumnya Corbiculidae).
DEDDY SINAGA
Sumber: TEMPO Interaktif | Jakarta – Jum’at, 13 April 2007 | 00:29 WIB