<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Nias</title>
	<atom:link href="http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/</link>
	<description>Sejarah &#38; Budaya Muslim Nias</description>
	<lastBuildDate>Sun, 18 Jul 2010 04:55:55 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Masykur</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-151</link>
		<dc:creator>Masykur</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 13 Jun 2010 05:26:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-151</guid>
		<description>Assalamu Alaikum wr. wb...
Terima kasih sekali saya bisa masuk ke web ini gara-gara Fb nya Aryan Polem, anak Nias keturunan Aceh...
Terima kasih banget buatnya Bpk TWA yang telah merintis mengumpulkan informasi tentang sejarah keturunan Aneuk Nanggroe ke Pulau Nias.
Saya termasuk dalam komunitas ini dan berasal dari Nias Utara, tepatnya Sifahando, antara Tuhemberua dan Lahewa.
Saya sudah meninggalkan Nias sejak tahun 1982 dan sesekali pulang.
Saya kenal Bapak (Alm.) Muhammad Idlim Polem ; mantan Kades Mudik era tahun 80-an dan masih mempunyai hubungan famili dengan beliau dan keluarganya. Kalau tidak salah beliau adalah Alm. Ama Mardhiah Polen (mohon dikoreksi jika keliru).
Kalau merujuk dari tulisan beliau, ada benarnya mengenai cerita Teuku Polem dan anak cucu keturunannya hingga saat ini memakai marga Polem sebagaimana pada umumnya masyarakat keturunan Aneuk Nanggroe yang mendiami Desa Mudik.
Mungkin ada benarnya dengan warga keturunan Aneuk Nanggroe yang memakai marga Aceh dan berdomisili di kawasan Miga.
Tapi apa yang direspons oleh saudaraku A.Hasan (apakah ini Abangku Amir Hasan Aceh yang di Bea Cukai Langsa sekarang???) juga sangat benar. 
Menurut cerita dari orangtua kami, hingga saat ini kami memakai marga Aceh karena kakek kami berasal dari Aceh, tetapi tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem.
Garis keturunan Teuku Polem pada umumnya ada di Desa Mudik dan mungkin yang di Miga itu, tetapi kami yang agak di Utara, kakek kami pertama sekali berlabuh di Luaha Muzei / Batete ture zouliho, dan kuburan yang diungkapkan oleh Abangku A.Hasan itu yang katanya bernama Labay Yaman di Nalua adalah salah satu kakek kami. Kakek kami yang lain, ada kuburannya di Batete Ture Zouliho tetapi tahun 1981 saya pernah ke sana, kuburan-kuburan sudah tidak ditemukan lagi karena telah dimakan abrasi dan telah bersatu dalam luaha (muara), yaitu muara yang hulunya di Idanondawa.
Kakek kami dari Aceh yang mendaratnya di Muzei tersebut kemudian ada yang hijrah ke desa Sifahandro dan diberikan tempat oleh penguasa kawasan itu bermarga Harefa.
Kalau Abang A.Hasan menyatakan bahwa orang Aceh yang kuburannya di Nalua itu hanya sekitar 7 generasi itu sangat betul, sesuai dengan penuturan almarhum ayah saya, dan jelas tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem, tetapi orangtua saya almarhum sangat akrab dengan Alm. Bp. Muhammad Idlim karena merupakan saudara seperantauan dari tanah Nanggroe.
Dengan kata lain, kita sama-sama dari naggroe tetapi berbeda Pincalang (kapal layar).
Apakah antara Teuku Polem dengan kakek kami yang berlabuh di Muzei sama-sama berasal dari Preumbeue Meulaboh dan sama-sama keturunan Teuku Cik Meuraksa, ini yang masih kabur.... tetapi orangtua kami pernah bercerita bahwa kakek kami berasal dari Meuraksa.
Hal yang sama tentunya berlaku juga untuk warga nias bermarga Aceh yang hingga saat ini dijumpai di Afulu, Hinako, Lahewa, Toyolawa (utara), foa, humene, dan ada yang di pesisir Idanogawo (maaf, saya lupa nama desanya, di sana juga banyak yang bermarga Aceh). Di Foa misalnya, teman saya sekolah dulu di SMP Muhammadiyah Gunungsitoli (th 70-an) ada beberapa anak Foa bermarga Aceh juga. 
Lalu, ketika saya benar-benar di tanah Nanggroe Aceh Darussalam tahun 1982 mengikuti famili yang ada di Meulaboh (asal Idanondawa), dia cerita bahwa kakek kami itu berasal dari Manggeng Aceh Selatan, dan setahun kemudian saya bertugas di Tapaktuan Aceh Selatan dan menyempatkan ke kawasan kecamatan Manggeng tersebut, tetapi di sana tentu mereka banyak tidak tau cerita itu...
Preumbeu merupakan daerah pinggir kota Meulaboh, saya di sana tahun 1982, sekitar 20 kilometer dari kota Meulaboh, Aceh Barat.
Saya di Aceh hingga tahun 1985 terakhir di kota Banda Aceh dan saya cari yang namanya Meuraksa itu. Ternyata itu merupakan nama sebuah kecamatan di Kota Banda Aceh di daerah Ulele (ejaan acehnya : Uleulheu) terkenal dengan pelabuhan Uleulheu. Kutaraja saat ini merupakan nama kecamatan juga di kota Banda Aceh. Tahun 1986 saya pindah ke Medan dan tahun 2001 saya bertugas lagi di perusahaan yang berbeda di Banda Aceh hingga tahun 2007.
Mengenai nama POLEM, di Aceh memang sering saya temukan nama orang Aceh sendiri seperti halnya orang Nias yang mencantumkan di belakang namanya, artinya bermarga Polem, tetapi menurut penjelasan beberapa teman yang saya tanyakan ketika berada di Aceh, Polem adalah nama sebuah daerah di Aceh Utara. Apakah benar ataukah tidak, mungkin masih perlu dikaji lagi.
Ketika tsunami di Aceh tahun 2004, saya dan keluarga berada di Banda Aceh mengalaminya dan daerah Mauraksa serta Kutaraja merupakan kawasan yang hancur rata dengan tanah karena kedua kawasan ini dekat dengan laut. Ulele misalnya, sungguh sangat mengenaskan kondisinya, mungkin 85% penduduknya hilang ditelan tsunami karena berada di bibir pantai....
Mengenai marga DUHA yang konon juga merupakan keturunan Orang Aceh, dulu waktu masih di Nias saya pernah mendengar ceita orangtua saya juga bahwa mereka adalah &quot;saudara&quot; juga yang kakeknya berasimilasi dengan orang Nias berdomisili di daerah Nias Selatan (Telukdalam) dan menjadi penganut kristen.
Bukan soal Islam atau Kristen nya, tetapi yang ingin sekali saya ketahui adalah bagaimana ceritanya kakek kita Orang Aceh itu berlabuh di Telukdalam dan mengawini marga apa?
Soal mengapa mereka bermarga DUHA, yang saya dengar dari penuturan orangtua dulu, Orang Aceh itu pantang menjadi Kristen. Islam adalah hidupnya Orang Aceh, maka ketika ada Orang Aceh yang menjadi penganut Nasrani, tidak boleh lagi memakai identitas Aceh, sama seperti beberapa Orang Aceh di Medan yang pindah agama, mereka berganti nama dan memakai marga orang batak. 
Kalau tidak salah, DUHA dinamai itu artinya TUAN. Orang Nias memanggil Orang Aceh yang masuk kristen itu sebagai DUHA atau TUHA, sebagai simbol penghormatan untuk orang luar yang masuk ke daerah mereka. (Ya, mungkin dulu proses asimilasi tidak berjalan lancar dimana yang dikawini oleh kakek Aceh itu tidak mau masuk Islam sehingga kakek itu atau anaknya yang menyatu ke pihak tuan rumah).
Apakah benar demikian?
Yang jelas, saudara-saudaraku yang bermarga DUHA jika cerita ini benar, adalah talifuso yang dimana kakek kita sama-sama dari Tanah Rencong Nanggroe.. Orangtua saya almarhum pernah menceritakan hal tersebut, bahwa marga DUHA dari Telukdalam adalah saudara kita....
Akhirnya, sangat menarik sekali bila sejarah orang Aceh di Nias diperkaya terus bahan-bahan referensi nya, meskipun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membawakan diri dengan tepat, tidak merasa eksklusif di daerah Nias.
Bagaimanapun, ketika kita berada di lingkungan Aceh sendiri, seperti saya yang pernah di Meulaboh (Aceh Barat), Tapaktuan (Aceh Selatan) dan 7 tahun di Banda Aceh, paling mudah kita memperkenalkan diri sebagai Orang Nias saja, ketimbang kita perkenalkan diri sebagai Orang Aceh, bahasa aceh tidak bisa, tidak ada bukti yang kita bawa seperti rencong Aceh atau pakaian Aceh. Karena ketika berinteraksi dengan orang Aceh masa kini, mereka tidak tau mengenai cerita itu.
Kalaupun kita mengatakan bahwa kita keturunan dari Aceh, bagi Orang Aceh itu sah-sah saja, karena yang mereka tau ketika Zaman Emas Kesultanan Aceh Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh bukan hanya di teritori Nanggroe Aceh yang sekarang ini melainkan juga hingga ke sebagian daerah Sumatera Utara (Dairi dan Karo) hingga ke pesisir barat termasuk Pulau Banyak dan Pulau Nias. Konsekwensinya, memang banyak orang Aceh yang kemudian berdomisili di daerah otonomi mereka itu seperti misalnya di daerah Karo, juga ada keturunan Aceh, Dairi juga, Natal, Barus dan lainnya.
Bahkan hingga Papua, keturunan Aceh pun juga banyak dan di mata orang Aceh sendiri, seperti kita-kita ini yang memakai marga Aceh atau Polem tidak lagi dianggap sebagai Ureng Atjeh Asli...(dulu waktu di Banda Aceh, di kantor saya tetap dianggap Orang Nias dan untuk itu saya menonjolkan marga Ibu saya &quot;Harefa&quot; sehingga mudah masuk ke persatuan orang nias yang ada di sana).
Yang paling baik menurut saya adalah, disamping memperkaya khazanah sebagaimana yang dilakukan oleh Bapak TWA (kita sangat apresiatif sekali) juga bagaimana memberikan kontribusi nyata buat daerah Nias sendiri, terutama teman-teman yang berdomisili di daerah Nias, toh lahir hingga mati nya tetap saja di Nias. Jauhkan diri dari eksklusifitas dan justru sangat strategis bila kita masuk ke dalam dunia suku Nias sendiri untuk menciptakan celah dan peluang mensejahterakan masyarakat terutama di &quot;lingkungan kita&quot;.
Mohon maaf jika ada pemaparan yang keliru dan saya berharap ada koreksi.

Wassalam,


Masykur Ayub Aceh
Makassar</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamu Alaikum wr. wb&#8230;<br />
Terima kasih sekali saya bisa masuk ke web ini gara-gara Fb nya Aryan Polem, anak Nias keturunan Aceh&#8230;<br />
Terima kasih banget buatnya Bpk TWA yang telah merintis mengumpulkan informasi tentang sejarah keturunan Aneuk Nanggroe ke Pulau Nias.<br />
Saya termasuk dalam komunitas ini dan berasal dari Nias Utara, tepatnya Sifahando, antara Tuhemberua dan Lahewa.<br />
Saya sudah meninggalkan Nias sejak tahun 1982 dan sesekali pulang.<br />
Saya kenal Bapak (Alm.) Muhammad Idlim Polem ; mantan Kades Mudik era tahun 80-an dan masih mempunyai hubungan famili dengan beliau dan keluarganya. Kalau tidak salah beliau adalah Alm. Ama Mardhiah Polen (mohon dikoreksi jika keliru).<br />
Kalau merujuk dari tulisan beliau, ada benarnya mengenai cerita Teuku Polem dan anak cucu keturunannya hingga saat ini memakai marga Polem sebagaimana pada umumnya masyarakat keturunan Aneuk Nanggroe yang mendiami Desa Mudik.<br />
Mungkin ada benarnya dengan warga keturunan Aneuk Nanggroe yang memakai marga Aceh dan berdomisili di kawasan Miga.<br />
Tapi apa yang direspons oleh saudaraku A.Hasan (apakah ini Abangku Amir Hasan Aceh yang di Bea Cukai Langsa sekarang???) juga sangat benar.<br />
Menurut cerita dari orangtua kami, hingga saat ini kami memakai marga Aceh karena kakek kami berasal dari Aceh, tetapi tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem.<br />
Garis keturunan Teuku Polem pada umumnya ada di Desa Mudik dan mungkin yang di Miga itu, tetapi kami yang agak di Utara, kakek kami pertama sekali berlabuh di Luaha Muzei / Batete ture zouliho, dan kuburan yang diungkapkan oleh Abangku A.Hasan itu yang katanya bernama Labay Yaman di Nalua adalah salah satu kakek kami. Kakek kami yang lain, ada kuburannya di Batete Ture Zouliho tetapi tahun 1981 saya pernah ke sana, kuburan-kuburan sudah tidak ditemukan lagi karena telah dimakan abrasi dan telah bersatu dalam luaha (muara), yaitu muara yang hulunya di Idanondawa.<br />
Kakek kami dari Aceh yang mendaratnya di Muzei tersebut kemudian ada yang hijrah ke desa Sifahandro dan diberikan tempat oleh penguasa kawasan itu bermarga Harefa.<br />
Kalau Abang A.Hasan menyatakan bahwa orang Aceh yang kuburannya di Nalua itu hanya sekitar 7 generasi itu sangat betul, sesuai dengan penuturan almarhum ayah saya, dan jelas tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem, tetapi orangtua saya almarhum sangat akrab dengan Alm. Bp. Muhammad Idlim karena merupakan saudara seperantauan dari tanah Nanggroe.<br />
Dengan kata lain, kita sama-sama dari naggroe tetapi berbeda Pincalang (kapal layar).<br />
Apakah antara Teuku Polem dengan kakek kami yang berlabuh di Muzei sama-sama berasal dari Preumbeue Meulaboh dan sama-sama keturunan Teuku Cik Meuraksa, ini yang masih kabur&#8230;. tetapi orangtua kami pernah bercerita bahwa kakek kami berasal dari Meuraksa.<br />
Hal yang sama tentunya berlaku juga untuk warga nias bermarga Aceh yang hingga saat ini dijumpai di Afulu, Hinako, Lahewa, Toyolawa (utara), foa, humene, dan ada yang di pesisir Idanogawo (maaf, saya lupa nama desanya, di sana juga banyak yang bermarga Aceh). Di Foa misalnya, teman saya sekolah dulu di SMP Muhammadiyah Gunungsitoli (th 70-an) ada beberapa anak Foa bermarga Aceh juga.<br />
Lalu, ketika saya benar-benar di tanah Nanggroe Aceh Darussalam tahun 1982 mengikuti famili yang ada di Meulaboh (asal Idanondawa), dia cerita bahwa kakek kami itu berasal dari Manggeng Aceh Selatan, dan setahun kemudian saya bertugas di Tapaktuan Aceh Selatan dan menyempatkan ke kawasan kecamatan Manggeng tersebut, tetapi di sana tentu mereka banyak tidak tau cerita itu&#8230;<br />
Preumbeu merupakan daerah pinggir kota Meulaboh, saya di sana tahun 1982, sekitar 20 kilometer dari kota Meulaboh, Aceh Barat.<br />
Saya di Aceh hingga tahun 1985 terakhir di kota Banda Aceh dan saya cari yang namanya Meuraksa itu. Ternyata itu merupakan nama sebuah kecamatan di Kota Banda Aceh di daerah Ulele (ejaan acehnya : Uleulheu) terkenal dengan pelabuhan Uleulheu. Kutaraja saat ini merupakan nama kecamatan juga di kota Banda Aceh. Tahun 1986 saya pindah ke Medan dan tahun 2001 saya bertugas lagi di perusahaan yang berbeda di Banda Aceh hingga tahun 2007.<br />
Mengenai nama POLEM, di Aceh memang sering saya temukan nama orang Aceh sendiri seperti halnya orang Nias yang mencantumkan di belakang namanya, artinya bermarga Polem, tetapi menurut penjelasan beberapa teman yang saya tanyakan ketika berada di Aceh, Polem adalah nama sebuah daerah di Aceh Utara. Apakah benar ataukah tidak, mungkin masih perlu dikaji lagi.<br />
Ketika tsunami di Aceh tahun 2004, saya dan keluarga berada di Banda Aceh mengalaminya dan daerah Mauraksa serta Kutaraja merupakan kawasan yang hancur rata dengan tanah karena kedua kawasan ini dekat dengan laut. Ulele misalnya, sungguh sangat mengenaskan kondisinya, mungkin 85% penduduknya hilang ditelan tsunami karena berada di bibir pantai&#8230;.<br />
Mengenai marga DUHA yang konon juga merupakan keturunan Orang Aceh, dulu waktu masih di Nias saya pernah mendengar ceita orangtua saya juga bahwa mereka adalah &#8220;saudara&#8221; juga yang kakeknya berasimilasi dengan orang Nias berdomisili di daerah Nias Selatan (Telukdalam) dan menjadi penganut kristen.<br />
Bukan soal Islam atau Kristen nya, tetapi yang ingin sekali saya ketahui adalah bagaimana ceritanya kakek kita Orang Aceh itu berlabuh di Telukdalam dan mengawini marga apa?<br />
Soal mengapa mereka bermarga DUHA, yang saya dengar dari penuturan orangtua dulu, Orang Aceh itu pantang menjadi Kristen. Islam adalah hidupnya Orang Aceh, maka ketika ada Orang Aceh yang menjadi penganut Nasrani, tidak boleh lagi memakai identitas Aceh, sama seperti beberapa Orang Aceh di Medan yang pindah agama, mereka berganti nama dan memakai marga orang batak.<br />
Kalau tidak salah, DUHA dinamai itu artinya TUAN. Orang Nias memanggil Orang Aceh yang masuk kristen itu sebagai DUHA atau TUHA, sebagai simbol penghormatan untuk orang luar yang masuk ke daerah mereka. (Ya, mungkin dulu proses asimilasi tidak berjalan lancar dimana yang dikawini oleh kakek Aceh itu tidak mau masuk Islam sehingga kakek itu atau anaknya yang menyatu ke pihak tuan rumah).<br />
Apakah benar demikian?<br />
Yang jelas, saudara-saudaraku yang bermarga DUHA jika cerita ini benar, adalah talifuso yang dimana kakek kita sama-sama dari Tanah Rencong Nanggroe.. Orangtua saya almarhum pernah menceritakan hal tersebut, bahwa marga DUHA dari Telukdalam adalah saudara kita&#8230;.<br />
Akhirnya, sangat menarik sekali bila sejarah orang Aceh di Nias diperkaya terus bahan-bahan referensi nya, meskipun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membawakan diri dengan tepat, tidak merasa eksklusif di daerah Nias.<br />
Bagaimanapun, ketika kita berada di lingkungan Aceh sendiri, seperti saya yang pernah di Meulaboh (Aceh Barat), Tapaktuan (Aceh Selatan) dan 7 tahun di Banda Aceh, paling mudah kita memperkenalkan diri sebagai Orang Nias saja, ketimbang kita perkenalkan diri sebagai Orang Aceh, bahasa aceh tidak bisa, tidak ada bukti yang kita bawa seperti rencong Aceh atau pakaian Aceh. Karena ketika berinteraksi dengan orang Aceh masa kini, mereka tidak tau mengenai cerita itu.<br />
Kalaupun kita mengatakan bahwa kita keturunan dari Aceh, bagi Orang Aceh itu sah-sah saja, karena yang mereka tau ketika Zaman Emas Kesultanan Aceh Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh bukan hanya di teritori Nanggroe Aceh yang sekarang ini melainkan juga hingga ke sebagian daerah Sumatera Utara (Dairi dan Karo) hingga ke pesisir barat termasuk Pulau Banyak dan Pulau Nias. Konsekwensinya, memang banyak orang Aceh yang kemudian berdomisili di daerah otonomi mereka itu seperti misalnya di daerah Karo, juga ada keturunan Aceh, Dairi juga, Natal, Barus dan lainnya.<br />
Bahkan hingga Papua, keturunan Aceh pun juga banyak dan di mata orang Aceh sendiri, seperti kita-kita ini yang memakai marga Aceh atau Polem tidak lagi dianggap sebagai Ureng Atjeh Asli&#8230;(dulu waktu di Banda Aceh, di kantor saya tetap dianggap Orang Nias dan untuk itu saya menonjolkan marga Ibu saya &#8220;Harefa&#8221; sehingga mudah masuk ke persatuan orang nias yang ada di sana).<br />
Yang paling baik menurut saya adalah, disamping memperkaya khazanah sebagaimana yang dilakukan oleh Bapak TWA (kita sangat apresiatif sekali) juga bagaimana memberikan kontribusi nyata buat daerah Nias sendiri, terutama teman-teman yang berdomisili di daerah Nias, toh lahir hingga mati nya tetap saja di Nias. Jauhkan diri dari eksklusifitas dan justru sangat strategis bila kita masuk ke dalam dunia suku Nias sendiri untuk menciptakan celah dan peluang mensejahterakan masyarakat terutama di &#8220;lingkungan kita&#8221;.<br />
Mohon maaf jika ada pemaparan yang keliru dan saya berharap ada koreksi.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>Masykur Ayub Aceh<br />
Makassar</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendri</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-136</link>
		<dc:creator>vendri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 10:50:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-136</guid>
		<description>Adalah hikayat masa lalu tentang kejayaan kerajaan Aceh Darussalam ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Adalah hikayat masa lalu tentang kejayaan kerajaan Aceh Darussalam ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendri</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-135</link>
		<dc:creator>vendri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 10:49:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-135</guid>
		<description>Phon that teudong nangroe Peureulak
dudo meuhalak nanggroe Samudra
Lam ruweungnyan na nanggroe Pidie
bineh pasie na nanggroe Daya

Keurajeun Aceh teuka &#039;oh dudo
luah nanggro ube nyang ka
Teumpat sulotan Aceh lhe sagoe
tanoh Gayo di nanggroe antara

Siblah Timu na nanggroe Pidie
Meuriti troh u Samalanga
Abeh Pase leumah Peureulak
kuasa meuhalak u Teuming teuma

Siblah Barat na nanggroe Teunom
teumpat geu tanom meuh ngon suasa
Abeh Meulaboh Na Kuala Batee
nanggroe ji the na Leube Dapha

Abeh Trumon na nanggro Singke (Singkil)
teumpat lahe Syiah Kuala
Meunan keuh rakan keurajeun Aceh
ji teupeu leubeh di selat Malaka

Dari Deli hingga Asahan
hana so lawan wahe syedara
Hansep Keudah meutamah Pahang
nanggroe Minang Aceh Kuasa

Adalah hikayat masa lalu tentang kerajaan Aceh Darussalam ini</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Phon that teudong nangroe Peureulak<br />
dudo meuhalak nanggroe Samudra<br />
Lam ruweungnyan na nanggroe Pidie<br />
bineh pasie na nanggroe Daya</p>
<p>Keurajeun Aceh teuka &#8216;oh dudo<br />
luah nanggro ube nyang ka<br />
Teumpat sulotan Aceh lhe sagoe<br />
tanoh Gayo di nanggroe antara</p>
<p>Siblah Timu na nanggroe Pidie<br />
Meuriti troh u Samalanga<br />
Abeh Pase leumah Peureulak<br />
kuasa meuhalak u Teuming teuma</p>
<p>Siblah Barat na nanggroe Teunom<br />
teumpat geu tanom meuh ngon suasa<br />
Abeh Meulaboh Na Kuala Batee<br />
nanggroe ji the na Leube Dapha</p>
<p>Abeh Trumon na nanggro Singke (Singkil)<br />
teumpat lahe Syiah Kuala<br />
Meunan keuh rakan keurajeun Aceh<br />
ji teupeu leubeh di selat Malaka</p>
<p>Dari Deli hingga Asahan<br />
hana so lawan wahe syedara<br />
Hansep Keudah meutamah Pahang<br />
nanggroe Minang Aceh Kuasa</p>
<p>Adalah hikayat masa lalu tentang kerajaan Aceh Darussalam ini</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: vendri</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-134</link>
		<dc:creator>vendri</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Feb 2010 10:46:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-134</guid>
		<description>Ass, pada abad ke 16 sultan aceh adalah raja di Pulau Sumatra yang tiada tanding. Untuk selngkapnya bisa baca buku &quot;Kerajaan  Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda&quot;  karya Dennis Lombard</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass, pada abad ke 16 sultan aceh adalah raja di Pulau Sumatra yang tiada tanding. Untuk selngkapnya bisa baca buku &#8220;Kerajaan  Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda&#8221;  karya Dennis Lombard</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iendrapolem</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-128</link>
		<dc:creator>iendrapolem</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 14:46:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-128</guid>
		<description>kepada sdri henny, polem itu bukanlah sebuah marga tetapi itu tanda bahsanya kami ini adalah keturunan dari teuku polem</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kepada sdri henny, polem itu bukanlah sebuah marga tetapi itu tanda bahsanya kami ini adalah keturunan dari teuku polem</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: iendrapolem</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-127</link>
		<dc:creator>iendrapolem</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 14:40:32 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-127</guid>
		<description>saya sangat senang sekali mendengar bahya angku saya M.Idlim polem telah menulis tentang riwayat kedatangan kakek kami teuku polem  d nias.
kpd yg ter hormat bpk/bg hasan untuk mengetahui lebih jelas tentang kedatangan teuku polem d nias langsung saja datang d jln.pattimura no 56 mudik gunungsitoli,Nias
dan d situ masih ada buku pertinggal dari angku saya yang sekarang masih d pegang oleh ayah saya Firman polem.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya sangat senang sekali mendengar bahya angku saya M.Idlim polem telah menulis tentang riwayat kedatangan kakek kami teuku polem  d nias.<br />
kpd yg ter hormat bpk/bg hasan untuk mengetahui lebih jelas tentang kedatangan teuku polem d nias langsung saja datang d jln.pattimura no 56 mudik gunungsitoli,Nias<br />
dan d situ masih ada buku pertinggal dari angku saya yang sekarang masih d pegang oleh ayah saya Firman polem.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: TWA_H24</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-125</link>
		<dc:creator>TWA_H24</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 08:00:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-125</guid>
		<description>Disini tempat yang lebih pas untuk memposting tentang sejarah Muslim Nias. Kalau berkenan kirim saja artikel yang dimuat ke muslim.nias[at]gmail[dot]com.
Insya Allah kita akan muat. Mungkin bisa dimulai dengan memuat tentang nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. (?). Pasti sangat menarik.
Wassalam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Disini tempat yang lebih pas untuk memposting tentang sejarah Muslim Nias. Kalau berkenan kirim saja artikel yang dimuat ke muslim.nias[at]gmail[dot]com.<br />
Insya Allah kita akan muat. Mungkin bisa dimulai dengan memuat tentang nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. (?). Pasti sangat menarik.<br />
Wassalam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abdul Halim Nasution</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-124</link>
		<dc:creator>Abdul Halim Nasution</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 09 Dec 2009 07:24:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-124</guid>
		<description>Pada penasaran sama sejarah leluhurnya di Nias yak??? Aq aja kalo gag dari Skripsi mama aq, aq gag bakalan tau ttg Sejarahnya. Dari situ saya banyak tau bahwa banyak nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. Tapi lucunya, saya suka posting di Niasisland.com, tapi sayang, selalu dihapus tuh sama admin nya, tauk dah knapa. Padahal itu kan sejarah ttg Masyarakat Nias pesisir yang notabenenya menganut adat Melayu, jadi sangat berbeda budayanya dari Nias asli. Dan itu adalah keragaman budaya yg uda di anut selama 500 tahun. Budaya yang sangat unik, perpaduan antara budaya Minang, aceh dan sedikit mandailing dan indianya. Tapi, entah mengapa masyarakat Nias asli tidak mengakuinya....ckckckck. Padahal itu kekayaan kita...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pada penasaran sama sejarah leluhurnya di Nias yak??? Aq aja kalo gag dari Skripsi mama aq, aq gag bakalan tau ttg Sejarahnya. Dari situ saya banyak tau bahwa banyak nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. Tapi lucunya, saya suka posting di Niasisland.com, tapi sayang, selalu dihapus tuh sama admin nya, tauk dah knapa. Padahal itu kan sejarah ttg Masyarakat Nias pesisir yang notabenenya menganut adat Melayu, jadi sangat berbeda budayanya dari Nias asli. Dan itu adalah keragaman budaya yg uda di anut selama 500 tahun. Budaya yang sangat unik, perpaduan antara budaya Minang, aceh dan sedikit mandailing dan indianya. Tapi, entah mengapa masyarakat Nias asli tidak mengakuinya&#8230;.ckckckck. Padahal itu kekayaan kita&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: TWA_H24</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-114</link>
		<dc:creator>TWA_H24</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 13:00:36 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-114</guid>
		<description>Alangkah baiknya jika ada yang bisa melengkapi catatan sejarah ini, dengan sejarah masyarakat muslim di P. Tello. Jika memiliki sumber-sumber tertulis mohon kabarkan pada kami, agar dapat dimuat disini.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Alangkah baiknya jika ada yang bisa melengkapi catatan sejarah ini, dengan sejarah masyarakat muslim di P. Tello. Jika memiliki sumber-sumber tertulis mohon kabarkan pada kami, agar dapat dimuat disini.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: toeti</title>
		<link>http://sejarah.muslim-nias.org/2007/02/riwayat-kedatangan-teuku-polem-di-nias/comment-page-1/#comment-111</link>
		<dc:creator>toeti</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 10:11:39 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://sejarah.muslim-nias.org/?p=14#comment-111</guid>
		<description>assalamualaikum. saya tuti polem. tinggal ditello. mnrt sya dgn adanya artikel ini sya jd lbh paham drmana asalnya polem krn slma ini saya sllu bingung ngejawab bila ditanya dr mana asal polem. thx buat penulis</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualaikum. saya tuti polem. tinggal ditello. mnrt sya dgn adanya artikel ini sya jd lbh paham drmana asalnya polem krn slma ini saya sllu bingung ngejawab bila ditanya dr mana asal polem. thx buat penulis</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
