Riwayat Kedatangan Teuku Polem di Nias
Suatu ringkasan dari tulisan M. Idlim Polem: “Sejarah Kedatangan Teuku Polem di Gunungsitoli Pulau Nias”
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam, wilayah kesultanan Aceh di bagi dalam beberapa sub wilayah pemerintahan. Wilayah bagian Barat saat itu berkedudukan di Preumbeue Meulaboh dan sebagai kepala pemerintahannya adalah Teuku Cik dari Meuraksa Kutaraja (Banda Aceh) Mukim XXVI.
Teuku Cik mempunyai 2 putra dan 1 putri, yaitu: Teuku Polem, Teuku Imeum Balo dan Siti Zalikha. Teuku Polem sebagai anak tertua diangkat menjadi pembantu ayahnya di bidang keamanan sedangkan Teuku Imeum Balo ditugaskan di bidang keagamaan. Teuku Polem sering memimpin langsung operasi pengamanan sepanjang pantai barat hingga ke Natal yang sering diganggu oleh perampok dan bajak laut.
Suatu ketika saat memimpin operasi dan kembali ke Tapak Tuan, Teuku Polem mendapat kabar duka bahwa ayahandanya telah wafat, dan berhubung Teuku Polem tidak berada di Meuloboh maka adiknya Teuku Imeum Balo diangkat sebagai pejabat sementara. Namun sekembalinya Teuku Polem di Meulaboh, beliau menolak diangkat menjadi pengganti ayahandanya dan menyerahkan tampuk pemerintah kepada adiknya yang telah diangkat menjadi pejabat sementara.
Teuku Polem justru melanjutkan tugasnya sebagai pemimpin keamanan. Kira-kira tahun 1642 M. Teuku Polem meninggalkan Meulaboh dengan 5 armada (Pincalang/ Kapal Layar) dan memutuskan hijrah dari Meulaboh dan bertekad bulat dimana menjumpai daratan maka disitulah tanah tumpah darahnya serta anak cucunya.
Armada ini akhirnya tiba di Pulau Nias dan berlabuh persisi sekitar Luaha Laraga Idanoi. Setelah menyusuri Luaha Laraga hingga ke hulu, rombongan Teuku Polem bertemu dan diterima dengan baik oleh penguasa daerah tersebut, yaitu Balugu Harimo. Daerah kekusaan Balugu Harimo ini bernama Onozitoli Laraga. Balugu Harimo mempunyai 3 orang putra dan 1 orang putri, yaitu:
1. Balugu Mangaraja Fagowa Harefa
2. Balugu Kaowa Kahemanu Harefa
3. Kahomo Harefa
4. Bowoanaa Harefa
Setahun setelah bermukim di Onozitoli Laraga, Teuku Polem menikahi putri Balugu Harimo; Bowoanaa Harefa. Sehingga putrinya ini resmi menjadi Istri Teuku Polem dan memeluk agama Islam. Saat itu kepercayaan yang dianut masyarakat Nias masih animisme dan dinamisme.
Setelah Bowoanaa memeluk Islam, keponakannya (anak dari Mangaraja Fagowa Harefa) yang bernama si Acah Harefa memeluk Islam. Keturunannya hingga saat ini adalah penduduk kampung Miga Oritabaloho Dahana Kecamatan Gunungsitoli.
Keturunan dari Kahomo Harefa juga mengikuti jejak yang sama dan keturunannya sekarang sebagian tinggal di Desa Mudik Kec. Gunungsitoli dan sebagain di Sifahandro Kec. Tuhemberua.
Sedangkan keturunan dari Balugi Kaowa Kahemanu Harefa kebanyakan memeluk agama Kristen Protestan dan keturunannya berdomisili di Lasara Hili Oritabloho Dahana, namun sebagian ada yang memeluk Islam dan selanjutnya berdomisili di Desa Mudik dan Sifahandro.
Pada tahun 1644 Balugu Harimo beserta keluarganya juga Teuku Polem pindah dari Onozitoli Laraga ke arah lembah sebuah sungai (Kali Nou) tepatnya di Dahana. Di daerah ini sebelumnya telah bermukim saudara Balugu Harimo yaitu Tua Laowo. Selanjutnya pada tahun yang sama, anak-anaknya Balugu Kaowa Kahemanu dan Kahomo pindah dari Dahana ke Lasara. Sedangkan Teuku Polem sekeluarga pindah ke Siwulu atau Geri’i (atua si lo niha/ hutan tak berpenghuni), yang sekarang ini adalah wilayah Desa Mudik.
Selama bermukim di Siwulu, Teuku Polem dan istrinya Bowoanaa Harefa dianugrahi seorang Putra bernama Simeugang (lahir 1653) dan Siti Zohora (lahir tahun 1654). Selanjutnya beberepa kerabat Teuku Polem ada yang kembali ke Aceh dan ada juga yang menuju arah Selatan dan Utara Pulau Nias dan membuka pemukiman baru. Sejak itu lambat laun mulailah ramai berdatangan pedagang-pedagang dari Aceh, Natal dan Sumatera Barat.
Selama kurang lebih 11 tahun bermukim di Siwulu, Teuku Polem selanjutnya berpindah lagi ke dekat Heleduna pada tahun 1655, dan sebagian kerabatnya ada yang memilih menetap di Siwulu/ Geri’i. Kemungkinan besar Heleduna dibuka sebagai pemukiman baru, karena disitu terdapat sumber mata air yang lebih besar dan lokasinya juga tidak terlalu jauh dengan pemukiman saudara-saudara iparnya di Lasara.
Pada tahun 1674 datang serombongan utusan Teuku Imeum Balo (adik Teuku Polem) dari Meulaboh untuk meminta Teuku Polem kembali ke Aceh, namun karena sudah bertekad bulat menetap di Pulau Nias, permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi Teuku Polem. Pada tahun 1675 kembali datang utusan dengan maksud yang sama. Untuk tidak mengecewakan adiknya, Teuku Polem mengutus anaknya Simeugang sebagai penggantinya (pada saat itu telah berusia 22 tahun) disertai keponakannya si Acah Harefa (anak dari Balugu Mangaraja Fagowa). Mereka mereka belajar tentang agama Islam di Meulaboh selama 14 tahun.
Pada tahun 1690 M. Siti Zohora dikawinkan dengan Datuk Ahmad, seorang bangsawan yang datang dari Pariangan, Padang Panjang). Setelah kelahiran putra pertama mereka, Datuk Raja Ahmad diminta oleh istrinya Siti Zohora dan mertuanya Teuku Polem untuk menjemput kakak iparnya Simeugang dan si Acah ke Meulaboh.
Teuku Simeugang dan Si Acah akhirnya pulang kembali ke Nias dengan membawa beberapa tanda mata peninggalan kakeknya Teuku Cik berupa persenjataan dan meriam, Badi Suasa, Cerana Perak dan barang-barang berharga lainnya.
Dua pucuk meriam tersebut masih ada hingga kini, satu berada di halaman masjid Jami’ Desa Mudik dan satu lagi berada di depan rumah dinas Bupati Nias. Dulunya kedua meriam tersebut berada di Desa Mudik, namun pada masa pemerintahan Belanda, oleh asisten Resident Nias atas seizin cucu-cucu Teuku Polem diambil dan diletakkan di depan kediaman Asisten Resident Nias, yang kini jadi rumah dinas Bupati Nias.
Teuku Polem wafat kira-kira tahun 1698 M. dan atas kesepakatan Teuku Simeugang dengan pihak paman dan iparnya, Teuku Polem dikebumikan ditempat yang jaraknya sama jauhnya dari rumah Teuku Simeugang dengan rumah adiknya Siti Zohora istri Datuk Raja Ahmad.
April 3rd, 2007 at 13:41
Saya merupakan salah satu anak desa mudik yang sekarang sedang kuliah di jogja. Saya senang sekali dengan artikel yang memuat riwayat kedatangan Teuku Polem di Pulau Nias. Dengan artikel ini saya jadi tahu (walau sedikit) mengenai sejarah orang-orang Aceh di Nias,khususnya desa Mudik.
Saya juga sangat berterimakasih kepada Om/bapak/angku(maaf, saya tidak tahu harus manggil apa) teuku Wira Alam yang sudah bersusah-susah membuat blog ini. Thanks
April 9th, 2007 at 13:47
Saudaraku Hajriadi Syah,
Pertama, kami turut mendoakan supaya kuliahnya di Jogja berjalan lancar dan kelak sukses meraih cita-cita.
Kami akui blog ini masih jauh dari sempurna dan masih belum lengkap menyajikan sejarah Muslim Nias, kendala waktu dan SDM merupakan alasan utama. Kalu sumber tulisan, Insya Allah sudah cukup lengkap.
Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera diposting.
Kalau ingin mengenal lebih dekat dengan pengelola blog silahkan email ke: muslim[dot]nias[at]gmail[dot]com
Wassalam
May 16th, 2009 at 11:09
Ass.wr.wb…
Salam kenal dr jauh…saya bukan org nias…tp simpati ama muslim nias….
May 16th, 2009 at 11:11
Sy pernah tugas di Nias…Wkt itu sempat tanya….n nyari2..dimana ato ada gak makam pnyebar Islam di Nias…Sebetulnya mo ziarah….
June 10th, 2009 at 12:38
assalamu’alaikum,,, senang membaca artikel/tulisan/posting dari blog ini,,, mudah2an update terus,,,
wassalam
June 10th, 2009 at 12:46
Alaikum Salam..
Insya Allah kita akan coba update terus. Kita juga mengharapkan kontribusi dari semua pihak, baik berupa tulisan, foto, dsb yang terkait dengan tujuan blog ini.
Terimakasih
Wassalam
June 10th, 2009 at 13:09
Haiyo, kenali sejarah leluhur kita sendiri di tanah Nias…
Salam buat temen2 yang laen…
July 7th, 2009 at 09:14
Polem bukan satu-satunya orang Aceh yang datang di Kep. Nias. Tolong dijelaskan Teuku Polem yang datang di Desa Mudik itu, sudah sampai berapa generasinya di Nias saat ini. Dari perkembangan generasi itu mungkin dapat ditelusuri cerita dan riwayat yang sebenarnya ? Tolong biar terang dan bagaimana yang sebenarnya. Yaahowu,,,, Saohagolo,,,,,, !
July 7th, 2009 at 14:46
Bisa jadi pendapat A. Hasan benar. Kami sendiri tidap pernah menyebutkan bahwa T. Polem adalah satu-satunya orang Aceh yang datang di Nias. Justru dengan adanya website ini kita dapat mengumpulkan keping-keping sejarah ummat Islam Nias ini sehingga dapat menjadi satu gambaran yang utuh bagi kita tentang sejarah nenek moyang kita.
Kalau tidak salah generasi T.Polem di Nias sudah mencapai generasi yg ke 12 atau 13 (mungkin juga 14 karena sudah ada level keponakan kami yang memiliki anak). Itu artinya dapat diperkirakan bahwa T.Polem sudah di Nias sekitar 1600an.
July 8th, 2009 at 20:41
saya orang jawa barat tapi sangat simpati dengan orang nias khususnya muslim nias.. saya ingin tahu banyak dengan hal-hal yang berhubungan dengan nias.. membaca sejarah ini merupakan awal saya untuk mempelajarinya…
July 15th, 2009 at 11:55
Di Kep Nias penduduk yang muslim tidak mencapai 10 %, Tapi tetap rukun dengan Agama lain, inilah salah satu keunikan masyarakat disana, mau menerima pendatang dari manapun. Penduduk P. Jawa sangat jarang disana kecuali aparat dan PNS (Pejabat). Oleh karena itu sangat-sangat bagus kalau program transmigrasi dari P Jawa ke Kep Nias untuk mengejar ketertinggalan terutama dalam suasembada pangan. Berdasarkan data hampir semua kebutuhan sembako didatangkan dari Sibolga/Padang P Sumatera.
September 18th, 2009 at 18:11
Kenapa keturunan Aceh di Kep. Nias memakai Marga Polem dan Aceh ? di Provinsi Aceh tidak demikian, dan kenapa juga tidak diwarisi Bahasa Aceh sampai sekarang ?
September 19th, 2009 at 17:11
@ Henny:
Pertanyaan yg bagus.
Menurut kajian kami, kenapa hanya di Kep. Nias saja ada marga Polem dan Aceh ini menunjukkan proses asimilasi yg luar biasa. Seperti kita ketahui bahwa marga adalah identitas yg sangat penting di Nias. Keturunan Aceh di Nias, darah Niasnya dari garis Ibu, otomatis mereka mau tak mau harus mengambil marga dari garis ayahnya. Mungkin itu sebabnya mereka menggunakan Polem atau Aceh. Sedangkan masyarakat keturunan Minang, kebanyakan menggunakan Chaniago yg diambil dari garis ayah, Datuk Radja Ahmad gelar Nyik Alam Pamuntjak Chaniago.
Pertanya bernada sama juga akan terlontar tentang kenapa masyarakat Nias keturunan Sumatera Barat menjadi penganut paternalisme, padahal dari Sumatera Barat tsb menganut Maternalisme.
Tentang bahasa, bukan hanya bahasa Aceh saja, tapi juga bahasa Minang sudah tidak lagi ditemui dalam bahasa pergaulan masyarakat Nias keturunan Minang tsb. Jawabannya adalah lagi-lagi Asimilasi budaya.
Apalagi kalau kita merunut pada pohon sislsilah keluarga Muslim Nias, baik Aceh maupun Minang bahwa darah Niasnya diperoleh dari garis Ibu. Tentunya ini sangat besar pengaruhnya dalam pengajaran tutur bahasa anak keturunannya.
Pernah terjadi perselisihan adat istiadat yg berlaku di masyarakat muslim Nias (antara keturunan Aceh dan Minang) dan akhirnya bisa ditengahi oleh ulama asal Sulawesi Selatan bernama H. Daeng Hafiz.
Namun perlu penilitian dan kajian lebih mendalam. Wallahu A’lam bi Shawab
November 12th, 2009 at 15:43
trims artikelnya,sabg pendatang jd tau sejarah tpmt sy tugas,trus up to date wasalam
November 12th, 2009 at 17:11
assalamualaikum. saya tuti polem. tinggal ditello. mnrt sya dgn adanya artikel ini sya jd lbh paham drmana asalnya polem krn slma ini saya sllu bingung ngejawab bila ditanya dr mana asal polem. thx buat penulis
November 14th, 2009 at 20:00
Alangkah baiknya jika ada yang bisa melengkapi catatan sejarah ini, dengan sejarah masyarakat muslim di P. Tello. Jika memiliki sumber-sumber tertulis mohon kabarkan pada kami, agar dapat dimuat disini.
December 9th, 2009 at 14:24
Pada penasaran sama sejarah leluhurnya di Nias yak??? Aq aja kalo gag dari Skripsi mama aq, aq gag bakalan tau ttg Sejarahnya. Dari situ saya banyak tau bahwa banyak nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. Tapi lucunya, saya suka posting di Niasisland.com, tapi sayang, selalu dihapus tuh sama admin nya, tauk dah knapa. Padahal itu kan sejarah ttg Masyarakat Nias pesisir yang notabenenya menganut adat Melayu, jadi sangat berbeda budayanya dari Nias asli. Dan itu adalah keragaman budaya yg uda di anut selama 500 tahun. Budaya yang sangat unik, perpaduan antara budaya Minang, aceh dan sedikit mandailing dan indianya. Tapi, entah mengapa masyarakat Nias asli tidak mengakuinya….ckckckck. Padahal itu kekayaan kita…
December 9th, 2009 at 15:00
Disini tempat yang lebih pas untuk memposting tentang sejarah Muslim Nias. Kalau berkenan kirim saja artikel yang dimuat ke muslim.nias[at]gmail[dot]com.
Insya Allah kita akan muat. Mungkin bisa dimulai dengan memuat tentang nama2 kampung di Nias berasal dari bahasa arab. (?). Pasti sangat menarik.
Wassalam.
December 12th, 2009 at 21:40
saya sangat senang sekali mendengar bahya angku saya M.Idlim polem telah menulis tentang riwayat kedatangan kakek kami teuku polem d nias.
kpd yg ter hormat bpk/bg hasan untuk mengetahui lebih jelas tentang kedatangan teuku polem d nias langsung saja datang d jln.pattimura no 56 mudik gunungsitoli,Nias
dan d situ masih ada buku pertinggal dari angku saya yang sekarang masih d pegang oleh ayah saya Firman polem.
December 12th, 2009 at 21:46
kepada sdri henny, polem itu bukanlah sebuah marga tetapi itu tanda bahsanya kami ini adalah keturunan dari teuku polem
February 6th, 2010 at 17:46
Ass, pada abad ke 16 sultan aceh adalah raja di Pulau Sumatra yang tiada tanding. Untuk selngkapnya bisa baca buku “Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda” karya Dennis Lombard
February 6th, 2010 at 17:49
Phon that teudong nangroe Peureulak
dudo meuhalak nanggroe Samudra
Lam ruweungnyan na nanggroe Pidie
bineh pasie na nanggroe Daya
Keurajeun Aceh teuka ‘oh dudo
luah nanggro ube nyang ka
Teumpat sulotan Aceh lhe sagoe
tanoh Gayo di nanggroe antara
Siblah Timu na nanggroe Pidie
Meuriti troh u Samalanga
Abeh Pase leumah Peureulak
kuasa meuhalak u Teuming teuma
Siblah Barat na nanggroe Teunom
teumpat geu tanom meuh ngon suasa
Abeh Meulaboh Na Kuala Batee
nanggroe ji the na Leube Dapha
Abeh Trumon na nanggro Singke (Singkil)
teumpat lahe Syiah Kuala
Meunan keuh rakan keurajeun Aceh
ji teupeu leubeh di selat Malaka
Dari Deli hingga Asahan
hana so lawan wahe syedara
Hansep Keudah meutamah Pahang
nanggroe Minang Aceh Kuasa
Adalah hikayat masa lalu tentang kerajaan Aceh Darussalam ini
February 6th, 2010 at 17:50
Adalah hikayat masa lalu tentang kejayaan kerajaan Aceh Darussalam ini
June 13th, 2010 at 12:26
Assalamu Alaikum wr. wb…
Terima kasih sekali saya bisa masuk ke web ini gara-gara Fb nya Aryan Polem, anak Nias keturunan Aceh…
Terima kasih banget buatnya Bpk TWA yang telah merintis mengumpulkan informasi tentang sejarah keturunan Aneuk Nanggroe ke Pulau Nias.
Saya termasuk dalam komunitas ini dan berasal dari Nias Utara, tepatnya Sifahando, antara Tuhemberua dan Lahewa.
Saya sudah meninggalkan Nias sejak tahun 1982 dan sesekali pulang.
Saya kenal Bapak (Alm.) Muhammad Idlim Polem ; mantan Kades Mudik era tahun 80-an dan masih mempunyai hubungan famili dengan beliau dan keluarganya. Kalau tidak salah beliau adalah Alm. Ama Mardhiah Polen (mohon dikoreksi jika keliru).
Kalau merujuk dari tulisan beliau, ada benarnya mengenai cerita Teuku Polem dan anak cucu keturunannya hingga saat ini memakai marga Polem sebagaimana pada umumnya masyarakat keturunan Aneuk Nanggroe yang mendiami Desa Mudik.
Mungkin ada benarnya dengan warga keturunan Aneuk Nanggroe yang memakai marga Aceh dan berdomisili di kawasan Miga.
Tapi apa yang direspons oleh saudaraku A.Hasan (apakah ini Abangku Amir Hasan Aceh yang di Bea Cukai Langsa sekarang???) juga sangat benar.
Menurut cerita dari orangtua kami, hingga saat ini kami memakai marga Aceh karena kakek kami berasal dari Aceh, tetapi tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem.
Garis keturunan Teuku Polem pada umumnya ada di Desa Mudik dan mungkin yang di Miga itu, tetapi kami yang agak di Utara, kakek kami pertama sekali berlabuh di Luaha Muzei / Batete ture zouliho, dan kuburan yang diungkapkan oleh Abangku A.Hasan itu yang katanya bernama Labay Yaman di Nalua adalah salah satu kakek kami. Kakek kami yang lain, ada kuburannya di Batete Ture Zouliho tetapi tahun 1981 saya pernah ke sana, kuburan-kuburan sudah tidak ditemukan lagi karena telah dimakan abrasi dan telah bersatu dalam luaha (muara), yaitu muara yang hulunya di Idanondawa.
Kakek kami dari Aceh yang mendaratnya di Muzei tersebut kemudian ada yang hijrah ke desa Sifahandro dan diberikan tempat oleh penguasa kawasan itu bermarga Harefa.
Kalau Abang A.Hasan menyatakan bahwa orang Aceh yang kuburannya di Nalua itu hanya sekitar 7 generasi itu sangat betul, sesuai dengan penuturan almarhum ayah saya, dan jelas tidak ada hubungannya dengan Teuku Polem, tetapi orangtua saya almarhum sangat akrab dengan Alm. Bp. Muhammad Idlim karena merupakan saudara seperantauan dari tanah Nanggroe.
Dengan kata lain, kita sama-sama dari naggroe tetapi berbeda Pincalang (kapal layar).
Apakah antara Teuku Polem dengan kakek kami yang berlabuh di Muzei sama-sama berasal dari Preumbeue Meulaboh dan sama-sama keturunan Teuku Cik Meuraksa, ini yang masih kabur…. tetapi orangtua kami pernah bercerita bahwa kakek kami berasal dari Meuraksa.
Hal yang sama tentunya berlaku juga untuk warga nias bermarga Aceh yang hingga saat ini dijumpai di Afulu, Hinako, Lahewa, Toyolawa (utara), foa, humene, dan ada yang di pesisir Idanogawo (maaf, saya lupa nama desanya, di sana juga banyak yang bermarga Aceh). Di Foa misalnya, teman saya sekolah dulu di SMP Muhammadiyah Gunungsitoli (th 70-an) ada beberapa anak Foa bermarga Aceh juga.
Lalu, ketika saya benar-benar di tanah Nanggroe Aceh Darussalam tahun 1982 mengikuti famili yang ada di Meulaboh (asal Idanondawa), dia cerita bahwa kakek kami itu berasal dari Manggeng Aceh Selatan, dan setahun kemudian saya bertugas di Tapaktuan Aceh Selatan dan menyempatkan ke kawasan kecamatan Manggeng tersebut, tetapi di sana tentu mereka banyak tidak tau cerita itu…
Preumbeu merupakan daerah pinggir kota Meulaboh, saya di sana tahun 1982, sekitar 20 kilometer dari kota Meulaboh, Aceh Barat.
Saya di Aceh hingga tahun 1985 terakhir di kota Banda Aceh dan saya cari yang namanya Meuraksa itu. Ternyata itu merupakan nama sebuah kecamatan di Kota Banda Aceh di daerah Ulele (ejaan acehnya : Uleulheu) terkenal dengan pelabuhan Uleulheu. Kutaraja saat ini merupakan nama kecamatan juga di kota Banda Aceh. Tahun 1986 saya pindah ke Medan dan tahun 2001 saya bertugas lagi di perusahaan yang berbeda di Banda Aceh hingga tahun 2007.
Mengenai nama POLEM, di Aceh memang sering saya temukan nama orang Aceh sendiri seperti halnya orang Nias yang mencantumkan di belakang namanya, artinya bermarga Polem, tetapi menurut penjelasan beberapa teman yang saya tanyakan ketika berada di Aceh, Polem adalah nama sebuah daerah di Aceh Utara. Apakah benar ataukah tidak, mungkin masih perlu dikaji lagi.
Ketika tsunami di Aceh tahun 2004, saya dan keluarga berada di Banda Aceh mengalaminya dan daerah Mauraksa serta Kutaraja merupakan kawasan yang hancur rata dengan tanah karena kedua kawasan ini dekat dengan laut. Ulele misalnya, sungguh sangat mengenaskan kondisinya, mungkin 85% penduduknya hilang ditelan tsunami karena berada di bibir pantai….
Mengenai marga DUHA yang konon juga merupakan keturunan Orang Aceh, dulu waktu masih di Nias saya pernah mendengar ceita orangtua saya juga bahwa mereka adalah “saudara” juga yang kakeknya berasimilasi dengan orang Nias berdomisili di daerah Nias Selatan (Telukdalam) dan menjadi penganut kristen.
Bukan soal Islam atau Kristen nya, tetapi yang ingin sekali saya ketahui adalah bagaimana ceritanya kakek kita Orang Aceh itu berlabuh di Telukdalam dan mengawini marga apa?
Soal mengapa mereka bermarga DUHA, yang saya dengar dari penuturan orangtua dulu, Orang Aceh itu pantang menjadi Kristen. Islam adalah hidupnya Orang Aceh, maka ketika ada Orang Aceh yang menjadi penganut Nasrani, tidak boleh lagi memakai identitas Aceh, sama seperti beberapa Orang Aceh di Medan yang pindah agama, mereka berganti nama dan memakai marga orang batak.
Kalau tidak salah, DUHA dinamai itu artinya TUAN. Orang Nias memanggil Orang Aceh yang masuk kristen itu sebagai DUHA atau TUHA, sebagai simbol penghormatan untuk orang luar yang masuk ke daerah mereka. (Ya, mungkin dulu proses asimilasi tidak berjalan lancar dimana yang dikawini oleh kakek Aceh itu tidak mau masuk Islam sehingga kakek itu atau anaknya yang menyatu ke pihak tuan rumah).
Apakah benar demikian?
Yang jelas, saudara-saudaraku yang bermarga DUHA jika cerita ini benar, adalah talifuso yang dimana kakek kita sama-sama dari Tanah Rencong Nanggroe.. Orangtua saya almarhum pernah menceritakan hal tersebut, bahwa marga DUHA dari Telukdalam adalah saudara kita….
Akhirnya, sangat menarik sekali bila sejarah orang Aceh di Nias diperkaya terus bahan-bahan referensi nya, meskipun yang paling penting adalah bagaimana kita bisa membawakan diri dengan tepat, tidak merasa eksklusif di daerah Nias.
Bagaimanapun, ketika kita berada di lingkungan Aceh sendiri, seperti saya yang pernah di Meulaboh (Aceh Barat), Tapaktuan (Aceh Selatan) dan 7 tahun di Banda Aceh, paling mudah kita memperkenalkan diri sebagai Orang Nias saja, ketimbang kita perkenalkan diri sebagai Orang Aceh, bahasa aceh tidak bisa, tidak ada bukti yang kita bawa seperti rencong Aceh atau pakaian Aceh. Karena ketika berinteraksi dengan orang Aceh masa kini, mereka tidak tau mengenai cerita itu.
Kalaupun kita mengatakan bahwa kita keturunan dari Aceh, bagi Orang Aceh itu sah-sah saja, karena yang mereka tau ketika Zaman Emas Kesultanan Aceh Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh bukan hanya di teritori Nanggroe Aceh yang sekarang ini melainkan juga hingga ke sebagian daerah Sumatera Utara (Dairi dan Karo) hingga ke pesisir barat termasuk Pulau Banyak dan Pulau Nias. Konsekwensinya, memang banyak orang Aceh yang kemudian berdomisili di daerah otonomi mereka itu seperti misalnya di daerah Karo, juga ada keturunan Aceh, Dairi juga, Natal, Barus dan lainnya.
Bahkan hingga Papua, keturunan Aceh pun juga banyak dan di mata orang Aceh sendiri, seperti kita-kita ini yang memakai marga Aceh atau Polem tidak lagi dianggap sebagai Ureng Atjeh Asli…(dulu waktu di Banda Aceh, di kantor saya tetap dianggap Orang Nias dan untuk itu saya menonjolkan marga Ibu saya “Harefa” sehingga mudah masuk ke persatuan orang nias yang ada di sana).
Yang paling baik menurut saya adalah, disamping memperkaya khazanah sebagaimana yang dilakukan oleh Bapak TWA (kita sangat apresiatif sekali) juga bagaimana memberikan kontribusi nyata buat daerah Nias sendiri, terutama teman-teman yang berdomisili di daerah Nias, toh lahir hingga mati nya tetap saja di Nias. Jauhkan diri dari eksklusifitas dan justru sangat strategis bila kita masuk ke dalam dunia suku Nias sendiri untuk menciptakan celah dan peluang mensejahterakan masyarakat terutama di “lingkungan kita”.
Mohon maaf jika ada pemaparan yang keliru dan saya berharap ada koreksi.
Wassalam,
Masykur Ayub Aceh
Makassar